BKSDA Aceh: Kematian 3 Harimau Sumatera Akibat Infeksi Jerat Kumparan Kawat

Rameune.com - 27 August 2021
BKSDA Aceh: Kematian 3 Harimau Sumatera Akibat Infeksi Jerat Kumparan Kawat
  Rameune.com
Bagikan:

Rameune.com, Aceh Selatan – Kepala BKSDA Aceh Agus Arianto S.Hut menyatakan, kesimpulan sementara dari hasil nekropsi yang dilakukan oleh tim medis secara makroskopis diketahui bahwa kematian harimau tersebut diduga akibat infeksi luka akibat terkena jerat (kumparan kawat).

“Selanjutnya Balai KSDA Aceh akan terus   berkoordinasi  dengan pihak Polres Aceh Selatan dan Balai Gakkum Wilayah Sumatera untuk perkembangan proses penanganan selanjutnya,” kata Agus Arianto dalam pernyataan resmi diterima wartawan di Tapaktuan, Jum’at (27/8/2021).

Ia menyebutkan, pers relise ini terkait penanganan kematian tiga ekor Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) akibat jerat di Gampong Ie Buboh, Kecamatan Meukek, Kabupaten Aceh Selatan.

Pada Selasa (24/8/2021) sore, Kepala Seksi Konservasi Wilayah II
Subulussalam menerima laporan dari Kepala UPTD KPH Wilayah VI perihal adanya harimau sumatera yang terjerat di Gampong Ie Buboh.

Menindaklajuti laporan tersebut, tim medis dari Balai KSDA Aceh pada hari Selasa (24/8) malam, bergerak dari Banda Aceh menuju Aceh Selatan.

Kemudian pada Rabu (25/8) pagi, tim medis BKSDA Aceh bersama BBTNGL, FKL, dan
WCS menuju lokasi untuk melakukan penanganan harimau sumatera yang terjerat, namunpada saat tim tiba ditemukan harimau sumatera sudah dalam kondisi mati terjerat dengan jumlah sebanyak tiga ekor.

Baca Juga:  MPC PP Aceh Selatan Gelar peringatan Hari Hut ke 61

“Selanjutnya tim melakukan koordinasi dengan pihak Polres Aceh Selatan dan Balai Gakkum Wilayah Sumatera untuk bersama-sama melakukan
olah TKP dan nekropsi,” sebutnya.

Pada Kamis (26/8), tim BKSDA Aceh bersama dengan tim inafis Polres
Aceh Selatan, Balai Gakkum Wilayah Sumatera, BBTNGL, BKPH Tapak Tuan-KPH Wilayah VI, Polsek Meukek, WCS, OIC dan FKL melakukan olah TKP dan nekropsi terhadap bangkai tiga ekor harimau sumatera.

Berdasarkan hasil olah TKP posisi ketiga individu harimau sumatera yang mati terkena jerat ditemukan terpisah di dua titik lokasi, dimana induk dan satu anakan berdekatan dan satu anakan lagi terpisah dengan jarak kurang lebih lima meter, kondisi ketiga ekor harimau sumatera tersebut sudah mulai membusuk.

Induk terjerat di bagian leher dan kaki belakang sebelah kiri, dengan kondisi kaki kiri depan yang telah membusuk. Satu ekor anakan berada di dekat induk, terdapat jeratan pada leher sedangkan satu ekor anakan lainnya berjarak kurang lebih lima meter dengan posisi jerat mengenai kaki kiri depan dan kaki kiri belakang.

Baca Juga:  Bupati Rocky Apresiasi Polres Aceh Timur Gelar Vaksinasi Massal pada HUT Bhayangkara

Jenis jerat berupa kumparan kawat yang dibentang sepanjang + 10 meter
(jerat aring). Lokasi kematian ketiga harimau sumatera tersebut berada di kawasan hutan
lindung yang berbatasan dengan APL.

Berdasarkan hasil nekropsi yang dilakukan oleh tim dokter hewan, diperoleh hasil sebagai berikut :

  1. Ketiga harimau sumatera tersebut terdiri dari satu induk dan dua anakan dengan jenis kelamin satu ekor betina, satu ekor jantan (anakan yang terpisah dari indukan).
  2. Perkiraan induk berumur + 10 tahun dan anakan berumur + 10 bulan.
  3. Induk dan satu ekor anak yang berjenis kelamin betina diperkirakan sudah mati sekitar lima hari, sedangkan satu anakan lagi yang berjenis kelamin jantan diperkirakan sudah mati sekitar tiga hari.

Tim medis juga mengambil sampel isi saluran cerna untuk dilakukan uji laboratorium di Puslabfor Mabes Polri untuk melihat ada tidaknya unsur-unsur lain yang menyebabkan kematian harimau sumatera tersebut.

Baca Juga:  Antisipasi Penyebaran Covid 19, Polsek Tapaktuan Gelar Razia Masker

Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan salah satu jenis satwa yang dilindungi di Indonesia berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar yang Dilindungi.

“Berdasarkan The IUCN Red List
of Threatened Species, satwa yang hanya ditemukan di Pulau Sumatera ini berstatus
Critically Endangered atau spesies yang terancam kritis, beresiko tinggi untuk punah di alam liar,” ungkap Agus Arianto.

Oleh sebab itu, BKSDA Aceh menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian khususnya harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dengan cara tidak merusak hutan yang merupakan habitat berbagai jenis satwa.

Serta tidak menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup ataupun mati serta tidak memasang jerat kawat/jerat listrik tegangan tinggi.

“Maupun racun yang dapat menyebabkan kematian satwa liar dilindungi
yang dapat dikenakan sanksi pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” tutupnya.

Bagikan:

Tinggalkan Komentar