Kolaborasi Komunitas Konservasi di Aceh untuk Satwa lindung

Rameune.com - 1 January 2022
Kolaborasi Komunitas Konservasi di Aceh untuk Satwa lindung
  Rameune.com
Bagikan:

Rameune.com, Aceh Selatan – Forum Jurnalis Lingkungan (FJL) Aceh mendorong lintas komunitas konservasi di Aceh berkolaborasi untuk melakukan kampanye dan advokasi terhadap satwa lindung. Kerja bersama menjadi penting agar perlindungan satwa berjalan lebih masif.

Hal itu mengemuka dalam dialog “evening talk” mendorong lintas komunitas untuk satwa lindung di Aceh, Jumat (31/12/2021). Kegiatan tersebut digelar oleh Forum Jurnalis Lingkungan (FJL), Convervation Response Unit (CRU) Aceh, dan Tropical Forest Conservation Action-Sumatra (TFCA-Sumatera). Dialog dihadiri oleh lintas komunitas anak muda, unsur pemerintah, dan Lembaga swadaya masyarakat.

Baca Juga:  Refleksi 16 Tahun Tsunami Aceh Terapkan Prokes Covid-19

Kepala Bidang Konservasi dan Sumber Daya Alam DLHK Muhammad Daud mengatakan perlu adanya sinergitas antar sektor dalam penanganan terkait satwa lindung.

Daud mengatakan perlu edukasi lebih masif kepada warga yang tinggal di kawasan hutan tentang hidup berdampingan dengan satwa.

“Banyak warga tidak mau menanam jenis tanaman yang tidak disukai gajah. Ini memicu konflik gajah lebih sering,” kata Daud.

Daud mengatakan pemerintah telah berupaya mengurangi konflik satwa dengan membuat parit, membangun pagar kejut, dan memasang kalung deteksi pergerakan. Namun, kata Daud, warga di kawasan hutan harus terlibat dalam pengawasan dan perawatan.

Baca Juga:  Klarifikasi: Ada 64 Travel Resmi Memiliki izin Umrah (PPIU) Kemenag RI di Aceh, Ini Daftarnya !!!

Pengendali Ekosistem Hutan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh Tutia Rahmi menjelaskan empat spesies satwa yakni harimau, gajah, orangutan, dan badak hidup di satu kawasan di Aceh. Kondisi ini seharusnya dapat membuat warga Aceh bangga, sebab tidak ada provinsi lain yang memiliki empat spesies sekaligus.

Namun, karena banyak orang yang tidak paham betapa bernilai spesies itu rasa memiliki menjadi kurang. Sementara para pemburu memanfaatkan untuk menjual organ satwa.

“Ada juga kepercayaan mistis terhadap kepemilikan organ satwa. Jadi bukan hanya semata karena ekonomi,” kata Tutia.

Baca Juga:  Demi Tercipta Situasi Aman, SAT Brimob Polda Aceh Melakukan Patroli Kemandahan Di Aceh Selatan

Tutia mengatakan anak muda perlu terlibat untuk melakukan kampanye perlindungan dan kebanggan terhadap satwa-satwa kunci tersebut.

Koordinator FJL Aceh Zulkarnaini Masry menuturkan keterlibatan anak muda dalam Kerja konservasi sangat penting, sebab mereka adalah pewaris lingkungan. Para anak milenial dapat melakukan kampanye melalui media sosial dan kepada jaringan komunitas.

“Kami akan melibatkan anak muda dalam kegiatan konservasi. Kami berharap mereka menjadi agen kampanye perlindungan satwa di Aceh,” kata Zulmasry.

Bagikan:

Tinggalkan Komentar